Minggu, 10 November 2013

TEORI KEJADIAN ALAM SEMESTA
Para ahli astronomi telah lama berusaha merumuskan berbagai teori yang dapat
menjelaskan tentang kejadian alam semesta. Salah satu teorinya disebut teori dentuman dahsyat (big bang). Teori ini pertama kali dikemukakan oleh kosmolog Abbe Lemaitre pada
tahun 1920-an. Menurutnya alam semesta ini bermula dari gumpalan super-atom raksasa yang
isinya tidak bisa kita bayangkan tetapi kira-kira seperti bola api raksasa yang suhunya antara 10
milyar sampai 1 trilyun derajat celcius (air mendidih suhunya hanya 100oC).
Gumpalan super-atom tersebut meledak sekitar 15 milyar tahun yang lalu. Hasil sisa dentuman dahsyat tersebut menyebar menjadi debu dan awan hidrogen. Setelah berumur ratusan juta tahun, debu danawan hidrogen tersebut membentuk bintang-bintang dalam ukuran yang berbeda-beda. Seiring dengan terbentunya bintang-bintang, di antara bintang-bintang tersebut berpusat membentukkelompoknya masing-masing yang kemudian kita sebut galaksi.
Teori
big bang
merupakan teori mutakhir tentang penciptaan alam semesta. Sebelumnya
telah berlaku berbagai teori kejadian alam semesta dengan sejumlah pendukung dan
penentangnya. Seperti Teori Keadaan Tetap (Steady State Theory) yang diusulkan pada tahun1948 oleh H. Bondi, T. Gold, dan F. Hoyle dari Universitas Cambridge (Tjasyono, 2006; 51).
Menurut teori ini, alam semesta tidak ada awalnya dan tidak akan berakhir. Dalam teori
keadaan tetap tidak ada asumsi bola api kosmik yang besar dan pernah meledak. Alam semesta
akan datang silih berganti berbentuk atom-atom hidrogen dalam ruang angkasa, membentukgalaksi baru dan menggantikan galaksi lama yang bergerak menjauhi kita dalam ekspansinya.
Teori lainnya yang cukup akomodatif dari kedua teori di atas ad
alah teori osilasi.
Keyakinan tentang kejadian alam semesta sama dengan Teori Keadaan Tetap yaitu bahwa alam
semesta tidak awal dan tidak akan berakhir. Tetapi model osilasi mengakui adanya dentuman besar dan nanti pada suatu saat gravitasi menyedot kembali efek ekspansi ini sehingga alam semesta akan mengempis (collapse) yang pada akhirnya akan menggumpal kembali dalam
kepadatan yang tinggi dengan temperatur yang tinggi dan akan terjadi dentuman besar kembali. Setelahbig-bang
kedua kali terjadi, dimulai kembali ekspansi kedua dan suatu saat akan
mengempis kembali dan meledak untuk ketiga kalinya dan seterusnya.
Di tempat lain para ilmuwan sibuk mengusulkan teori lain tentang terciptanya tata surya.
Bagi para ilmuwan, formasi tata surya sangat menarik karena keteraturan planet-planet
mengelilingi matahari. Bersamaan dengan itu, satelit planet
juga mengitari planet induknya.
Adalah Izaac Newton (1642-1727) yang memberi dasar teori mengenai asal mula Tata Surya. Ia menyusun Hukum Gerak Newton atau Hukum Gravitasi yang membuktikan bahwa
gaya antara dua benda sebanding dengan massa masing-masing objek dan berbanding terbalikdengan kuadrat jarak antara kedua benda. Teori Newton menjadi dasar bagi berbagai teoripembentukan Tata Surya yang lahir kemudian, sampai dengan tahun 1960 termasuk
didalamnya teori monistik dan teori dualistik. Teori monistik menyatakan bahwa matahari dan
planet berasal dari materi yang sama. Sedangkan teori dualistik menyatakan matahari dan bumi
berasal dari sumber materi yang berbeda dan terbetuk pada waktu yang berbeda.
Tahun 1745, George Comte de Buffon (1701-1788) dari Perancis mempostulatkan teoriduali
stik dan
katastrofi
yang menyatakan bahwa tabrakan komet dengan permukaan matahari
menyebabkan materi matahari terlontar dan membentuk planet pada jarak yang berbeda.
Kelemahan dari teori Buffon tidak bisa menjelaskan asal datangnya komet. Ia hanya
mengasu
msikan bahwa komet jauh lebih masif dari kenyataannya.
Filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650) mempercayai bahwa ruang angkasa terisi
olehfluida alam semesta dan planet-planet terbentuk dalam pusaran air. Teori ini tidak
didukung oleh dasar ilmiah yang kuat sehingga banyak yang menolaknya. Namun demikian,
nampaknya menjadi inspirasi bagi Immanuel Kant (1724-1804) bahwa ada kemungkinan bahwa
alam semesta itu berasal dari sesuatu “lembut” dan lebih lebit dari fluida yaitu adanya awan gas
yang berkontraks
i dibawah pengaruh gravitasi sehingga awan tersebut menjadi pipih. Gagasan
Kant didasarkan dari Teori Pusaran Descartes yang merubah asumsi dari fluida menjadi gas.
Setelah adanya teleskop, William Herschel (1738-1822) mengamati adanya
nebula yang awalnya dianggap sebagai kumpulan gas yang gagal menjadi bintang. Tahun 1791, ia melihat bintang tunggal yang dikelilingi oleh hallo yang terang. Asumsi inilah yang kemudian
berkembang dan menaik kesimpulan sementara bahwa bintang itu terbentuk dari nebula dan hallo merupakan sisa dari nebula.
Teori nabula semakin mantap setelah Pierre Laplace (1749-1827) menyatakan awan gas
dan debu yang berputar secara perlahan akan menjadi padu akibat gravitasi. Pada saat padu,
momentum sudut dipertahankan melalui putaran yang
dipercepat sehingga terjadilah pemipihan. Selama dalam kontraksi, materi di pusat pusaran menjadi matahri dan materi yang terlepas dan memisahkan diri dari piring pusaran membentuk sejumlah cincin. Material di sekitar cincin juga membentuk pusaran yang leb
ih kecil dan terciptalah planet-planet.
Teori Laplace ditentang oleh Clerk Maxwell (1831-1879). Menurut Maxwell teori
cincin hanya bisa stabil jika terdiri dari partikel-partikel padat. Jika bahannya dari gas seperti
pendapat Laplace maka tidak akan terbentuk planet. Menurut Maxwell cincin tidak
bisaberkondensasi menjadi planet karena gaya inersianya akan memisahkan bagian dalam dan luar
cincin.Seandainya proses pemisahan bisa terlewati, massa cincin masih jauh lebih masif
dibanding massa planet yang terbentuk.
Thomas C. Chamberlin (1843–1928) ahli geologi dan Forest R. Moulton (1872–1952)
seorang ahli astronomi mengajukan teori lain yaitu Teori Planetesimal.
Menurut teori ini,matahari telah ada sebagai salah satu dari bintang-bintang yang banyak. Pada suatu masa,entah kapan, ada sebuah bintang berpapasan pada jarak yang tidak jauh. Akibatnya, terjadilah peristiwa pasang naik pada permukaan matahari. Sebagian dari masa matahari itu tertarik kearah bintang lewat. Material yang tertarik ada yang kembali ke matahari dan sebagian lainnya
terlepas dan menjadi planet-planet.
Teori lain yang mirip dengan teori Chamberlin dan Moulton adalah teori pasang surut
yang dikemukakan oleh Sir James Jeans (1877–
1946) dan Harold Jeffreys (1891) yang
keduanya berkebangsaan Inggris. Peristiwa pasang surutnya
digambarkan oleh Jeans dan Jeffreys adalah seperti cerutu. Artinya ketika bintang lewat mendekati matahari, pada waktu itu masa matahari tertarik dengan bentuk menjulur keluar seperti cerutu.
Setelah jauh, cerutu tersebut menetes dan tetesannya membentuk planet-planet.
Teori lainnya adalah dari Carl von Weizsaeker seorang ahli astronomi Jerman.
Teorinya dikenal dengan nama Teori Awan Debu (
The Dust-Cloud Theory).
Gagasannya adalah
bahwa tata surya awalnya terbentuk dari gumpalan awan gas dan debu. Awan gas dan debu
mengalami proses pemampatan membentuk bola dan mulai berpilin. Lama-kelamaan gumpalan
gas itu memipih menyerupai bentuk cakram yaitu bulat dan pipih yang dibagian tengahnya
tebal sedangkan di bagian tepiannya sangat tipis. Bagian tengah memilin lebih lambat daripada
bagian tepiannya. Partikel dibagian tengah saling menekan sehingga menimbulkan panas dan
menyala yang kemudian menjadi matahari. Sedangkan ba
gian luar berpusing sangat cepat sehingga banyak yang terlempar dan menjadi gumpalan gas dan kumpulan debu padat. Bagian
yang kecil-kecil itu kemudian menjadi planet-planet.
Sebagian ahli juga percaya bahwa ketika matahari mulai memijar, angin matahari
berhembus sangat kencang sehingga menerpa gumpalan-gumpalan debu calon planet.
Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars terkena dampak langsung sehingga debu calon planet
sebagian terhempas dan “telanjanglah” planet-planet tersebut. Sementara Jupiter, Saturnus,
Uranus, dan Neptunus masih tetap seperti planet “debu” sehingga bentuknya masih berukuran
raksasa. Dengan landasan pada asumsi dan teori ini, maka sangat aneh adanya planet pluto
yang berwujud terestrial (padat). Pertanyaan inilah yang belum dapat dijawab dan u
ntuk
sementara “ditunda” statusnya sebagai planet. Adapun bulan atau satelit padat di sekitar planet-planet debu berukuran besar itu karena lebih dulu memadat yang kemudian bergerak mengitari
planet induknya.

PEMBENTUKAN ALAM SEMESTA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

Allah SWT. Menurunkan Al-Quran kepada manusia 14 abad yang lalu. Beberapa fakta yang baru dapat diungkap dengan teknologi pada abad ke-21, yang telah difirmankan Allah SWT. didalam Al-Quran 14 abad yang lalu. Didalam Al-Quran terdapat banyak bukti yang memberikan informasi dasar mengenai beberapa hal seperti penciptaan alam semesta. Kenyataan bahwa didalam Al-Quran tersebut telah sesuai dengan penemuan terbaru ilmu pengetahuan modern adalah hal terpenting, karena kesesuaian ini menegaskan bahwa Al-Quran adalah Firma Allah SWT.

Dalam Al-Quran surat Fush-shilat (41:11)

Artinya: “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".

Kata asap dalam tersebut menurut para ahli tafsir adalh merupakan kumpulan dari gas-gas dan pertikel-partikel halus baik dalam bentuk padat maupun cair pada temperatur yang tinggi maupun rendah dalam suatu campuran yang lebih atau kurang stabil.

Salah satu teori mengenai terciptanya alam semesta (teori Big bang) disebutkan bahwa alam semesta tercipta dari suatu ledakan kosmis sekitar 10-20 milyar tahun yang lalu mengakibatkan adanya ekspansi (pengembangan) alam semesta. Sebelum terjadinya ledakan kosmis tersebut, seluruh ruang materi dan energi terkumpul dalam bentuk titik.

Didalam Al-Quran dijelaskan tentang terbentuknya alam ini (QS Al-Anbiya : 30)

Artinya: “Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu (sebingkah penuh), kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman”.

Berdasarkan terjemahan dan tafsir Bachtiar Surin (1978:692) ditafsirkannya bahwa matahari adalah benda angkasa yang menyala-nyala yang telah berputar mengeliligi sumbunya sejak berjuta-juta tahun. Dalam peroses perputarannya denagn kecepatan tinggi itu, maka terlontarlah bingkahan-bingkahan yang akhirnya menjadi bumi dan beberapa benda angkasa lainnya dari bingkahan matahari itu. Masing-masing bingkah beredar menurut garis tengah lingkaran matahari, semakin lama semakin bertambah jauh, hingga masing-masing menempati garis edarnya. Dan seterusnya akan tetap beredar dengan teratur sampai batas waktu yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Kemudian dalam surat Adz-Dzaariyaat (51:47)

Artinya: “Dan langit, denag kekuasaan Kami, Kami bangun dan Kami akan memuaikannya selebar-lebarnya”.

Teori ledakan maha dahsyat juga mengatakan adanya pemuaian alam semesta secara terus-menerus denagn kecepatan maha dahsyat yang diumpamakan mengembangnya permukaan balon yang sedang ditiup yang mengisyaratkan bahwa galaksi akan hancur kembali. Isyarat ini sudah dijelaskan dalam surat Al-Anbiya’ (21:104)

Artinya: “(yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran - lembaran kertas. sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama Begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; Sesungguhnya kamilah yang akan melaksanakannya”.

Dalam surat Ath-Tholaq (65:12)

ªArtinya: “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah Berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”.

Ayat ini mengisyaratkan bahwa ruang angkasa terdiri dari 7 lapis.

Didalam surat As-Sajada (32:4)

Artinya: “Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy[1188]. tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at[1189]. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan”.

[1188] Bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.

[1189] Syafa'at: usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain. syafa'at yang tidak diterima di sisi Allah adalah syafa'at bagi orang-orang kafir.

Uraian penciptaan langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya, terdapat dalam surat Fush-Shilat ayat 9, 10 dan 12

Artinya: “Katakanlah: "Sesungguhnya Patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam".

ŸArtinya: “Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa”. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.

Artinya: “Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui”.

Dengan perincian penafsirannya sebagai  berikut :

1.      Tahap pertama penciptaan bumi 2 rangakain waktu

2.      Tahap kedua penyempurnaan bumi 2 rangkaian waktu

3.      Tahap ketiga penciptaan angkasa raya dan planet-planetnya 2 rangkaian waktu
Jadi terbentuknya alam raya ini terjadi dalam 6 rangkaian waktu atau 6 masa. Selain surat-surat tersebut diatas masih banyak lagi yang menjelaskan tentang terbentuknya alam raya ini, namun dari yang telah kami sampaikan dalam ringkasan ini terlihat bahwa secara umum proses terciptanya alam raya ini berlangsung dalam 6 masa, dimana tahapan-tahapan dalam proses tersebut saling berkaitan. Disebutkan juga bahwa terciptanya alam raya ini terjadi melalui proses pemisahan massa yang tadinya satu
 =

0 komentar:

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan